Pidato Puasa Ramadhan

Pidato Puasa Ramadhan

0

Pada bulan suci Ramadhan, biasaya kita dilatih untuk berdiri di depan mimbar dan berpidato untuk melatih jiwa kepemimpinan. Banyak sekali naskah pidato puasa Ramadhan yang dapat dijadikan acuan untuk menyampaikan pidato di depan khalayak.

Berikut ini pidato puasa Ramadhan yang dapat dijadikan bahan materi dalam menyampaikan pidato puasa Ramadhan.

Pidato Puasa Ramadhan Pidato Puasa Ramadhan

Naskah Pidato Ramadhan : Keistimewaan Malam Qadar

Mengawali pertemuan kita melalui mimbar kali ini, pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah, karena atas rahmat, taufik dan petunjuk-Nya, kita dapat berkumpul dalam tempat yang baik ini tanpa ada suatu halangan apapun. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW. Karena beliau kita dapat mengetahui yang baik dan yang bathil, yang halal dan yang haram, antara jalan menuju ke surga dan jalan menuju ke neraka.

Malam qadar (lailatul qadar) merupakan malam kemuliaan yang teristimewa. Tidak ada suatu malam yang mendapat kehormatan yang tingginya, selain lailatul qadar. Di dalam Al-Qur’an terdapat surat yang secara khusus menceritakan tentang malam lailatul qadar. Surat ini turun sewaktu Nabi masih di Mekkah, pada tahun permulaan dari ke Nabian.

Allah SWT, berfirman dalam surat Al-Qadar ayat 1-5, yang artinya:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan dia (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahterahan sampai terbit fajar.”

Sungguh keistimewaan terbesar telah diberikan oleh Allah kepada umat Nabi Muhammad saw. Di dalam bulan Ramadhan yaitu malam kemuliaan (lailatul qadar) yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan.

Surat Al-Qadar yang terdiri dari 5 ayat itu menyebutkan, pentingnya malam yang semalam itu. Suatu peristiwa besar sudah terjadi, turunnya kitab suci Al-Qura’an dari Tuhan kepada Nabi Muhammad. Untuk mengakhiri zaman kegelapan yang menyelubungi seluruh masyarakat manusia, untuk di bawa ke zaman terang benderang dengan prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran yang maha tinggi dari Tuhan. Pemindahan zaman yang penting ini di tandai Tuhan dengan lailatul qadar, malam maha kuat yang merobek dan mengoyak-ngoyak segala kegelapan. Dengan segala upacara kebesaran, turunnya Al-Qur’an pada malam itu dihantarkan suatu barisan demonstran besar dari seluruh malaikat yang suci-suci dibawah pimpinan malaikat Jibril.

Diriwayatkan dari Anas r.a, ia berkata, sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda :

“Ketika terjadi malam lailatul qadar, maka turunlah malaikat Jibril dengan rombongan malaikat. Mereka membacakan shalawat dan salam pada setiap hamba yang berdiri atau duduk yang sedang zikir kepada Allah SWT.”

Abu Hurairah r.a, berkata: “Malaikat-malaikat turun ke bumi pada malam lailatul qadar lebih banyak dari bilangan batu kerikil.”

Dibukalah pintu-pintu langit untuk turunnya malaikat-malaikat itu, sebagaimana yang dijelaskan dalam sebuah riwayat bahwa cahaya memancar ke genap penjuru menyibak dan mengusir segala gulita, kondisinya menjadi sedemikian sakral dan agung, alam malakut menjadi terbuka.

Lafal “al-lail” (malam) disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 92 kali, bahkan ada yang dijadikan persumpahan oleh Allah, tetapi khusus untuk malam qadar ini diberikan kehormatan yang sangat tinggi. Di dalam surat Ad-Dukhan ayat 3, malam itu dinyatakan sebagai malam Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dan yang batil.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan, sesungguhnya Nabi Muhammad saw, bersabda: “Barangsiapa yang beribadah di malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan semata-mata mengharapkan ridha Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah diperbuat sebelumnya.”

Mengenai kapan terjadinya malam yang sangat mulia itu, tidak ada yang mengetahuinya secara persis. Tetapi yang pasti malam lailatul qadar itu terjadi pada suatu malam di bulan Ramadhan. Kiranya hal itu memang sengaja dirahasiakan, agar seluruh malam-malam bulan Ramadhan terisi dengan aktivitas peribadatan yang sungguh-sungguh. Kalau semuanya dimanfaatkan dengan memperbanyak ibadah dan i’tikaf, tentu keistimewaan malam yang begitu luar biasa itu diperolehnya, beserta malam-malam lain di bulan Ramadhan yang pahalanya juga berlipat-lipat.

Namun demikian, terdapat hadits yang mengindikasikan mengenai malam yang kemungkinan besar sebagai terjadinya peristiwa yang amat istimewa itu (malam qadar). Sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Umar r.a, sesungguhnya Nabi saw bersabda: “ Barangsiapa yang menghidupkan malam tanggal duapuluh tujuh dari bulan Ramadhan sampai subuh, maka itu lebih aku sukai daripada berdiri beribadah dalam malam-malam bulan Ramadhan keseluruhannya.”

Rasulullah saw juga bersabda:”Barangsiapa yang mengharap mendapatkan lailatul qadar, maka hendaknya ia berusaha mendapatkannya di malam dua puluh tujuh.” (HR. Ahmad)

Fatimah berkata:”Wahai ayah, apa yang dapat dilakukan orang-orang lemah, laki-laki, perempuan yang tidak dapat berdiri?”Beliau bersabda:” Tidaklah mereka meletakkan bantal-bantalnya lalu dipakai bertelakan, lalu mereka duduk sesaat dari saat-saat malam itu dan berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, kecuali hal itu lebih aku suka daripada berdirinya umatku seluruhnya pada bulan Ramadhan.

Rasulullah saw, bersabda: “Barangsiapa yang menghidupkan malam lailaul qadar dan shalat dua rakaat serta memohon ampun, maka Allah akan mengampuninya dan dia telah mendapatkan limpahan rahmat Allah serta Jibril akan mengusapkan sayapnya padanya. Dan barangsiapa yang disuap (dielus) oleh Jibril dengan sayapnya, tentu dia masuk surga.”

Demikianlah pidato Ramadhan yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan yang mulia ini, semoga Allah senantiasa menganugerahkan rahmat, taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua, amin. Akhirnya, terimakasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya. Hadanallah waiyyakum ajma’in, was salamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Suka Kue Lainnya?

  1. Puasa Ramadhan
  2. Hakekat Puasa Ramadhan
  3. Niat Puasa Bulan Ramadhan
  4. Pahala Puasa Ramadhan
  5. Rahasia Puasa Ramadhan
Detail :
Pidato Puasa Ramadhan Reviewed by KueKering Lebaran on Jul 5 Rating: 5.0
Artikel

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.