Fiqih Puasa Ramadhan

Fiqih Puasa Ramadhan

0

Fiqih artinya paham. Fiqih puasa Ramadhan berarti memahami tentang puasa Ramadhan dari mulai hukum, tata cara, keutamaan, hal-hal yang membatalkan, dan seluruh hal teknis yang berkaitan dengan puasa Ramadhan.

Dengan mengenal dan memahami seluk beluk puasa Ramadhan, maka isyaallah ibadah puasa kita dapat diterima dan mendapatkan ganjaran pahala yang telah dijanjikan oleh Allah SWT.

fiqh Fiqih Puasa Ramadhan

Fiqih Ringkas Tentang Puasa

Secara sederhana, puasa berarti menahan. Puasa tidak hanya sekedar menahan makan dan mimum saja, lebih dari itu menahan diri dari segala hal yang dapat membuat batalnya puasa. Dasar hukum puasa Ramadhan, dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183-185.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa. (Yaitu) dalam beberapa hari tertentu.. barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.”

Dalam hadist, Rasulullah mengutarakan keutamaan puasa, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan penuh harap, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barangsiapa yang shalat malam pada bulan puasa, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Bukhari dan Muslim)

Hal yang membatalkan puasa

    1. Makan dan minum
    2. Bersenggama di siang hari
    3. Muntah yang disengaja
    4. Keluarnya darah dari tubuh

      Disamping hal-hal yang dapat membatalkan puasa, adapun hal-hal yang dapat merusak pahala puasa antara lain berbicara yang tidak bermakna atau bercanda yang berlebihan, berbohong, tidak menepati janji, terlintas niat untuk berbuka, zinah mata atau bagian tubuh lain, dan sebagainya.

      Allah swt. mewajibkan orang-orang yang untuk melakukan ibadah puasa. Tetapi ada pengecualian bagi mereka yang antara lain:

      1. Safar atau lebih dikenal dengan musafir yakni orang yang dalam perjalanan. Kategori safar pun menjadi perdebatan para ulama. Imam Hambali berpendapat bahwa orang safar dikategorikan sebagai orang yang dalam kesusahan. Namun, bagi mereka diwajibkan untuk mengganti puasa di hari yang lainnya atau membayar fidyah

      2. Orang sakit, yaitu orang yang sama sekali tidak mampu atau orang yang jika melaksanakan puasa akan memperburuk keadaan kesehatannya. Demikian juga dengan orang yang sakit, mereka wajib mengganti puasa di bulan lain jika kondisi kesehatannya sudah memungkinkan untuk itu.

      3. Wanita hamil dan ibu menyusui. Ini dikarenakan demi kesehatan janin dalam kandungan atau bayinya yang sedang disusui. Mereka wajib mengqadha dan atau memberi fidyah kepada orang fakir.

      4. Lanjut usia. Orang tua yang sudah tidak mampu berpuasa tidak diwajibkan menjalankan ibadah puasa, tetapi mereka juga masih berkewajiban membayar fidyah jika mampu.

      5. Jika dalam berpuasa, orang tersebut menderita dehidrasi yang berlebihan maka dibolehkan untuk berbuka, karena dikhawatirkan akan mengancam kesehatan dan keselamatannya.

      Suka Kue Lainnya?

      1. Hukum Puasa Ramadhan
      2. Puasa Ramadhan dan Hikmahnya
      3. Dalil Puasa Ramadhan
      4. Khutbah Puasa Ramadhan
      5. Ayat Tentang Puasa Ramadhan
      Detail : Artikel

      Comments are closed.